Ppalli Ppalli!!!!!! Yang bahaya bukan cuma corona, tapi organ ekstra Akhirnya kamu datang. Cepat ke sini! Dekatkan telingamu dan simak ini...

Because I couldn't stop for death– 💙

 

Ppalli Ppalli!!!!!!

Yang bahaya bukan cuma corona, tapi organ ekstra
Akhirnya kamu datang. Cepat ke sini! Dekatkan telingamu dan simak ini baik-baik. Setelah ini, aku harus cepat bergegas karena hitungan menit orang-orang itu akan memburuku. Mungkin aku harus eksil ke Swiss, mengganti identitas, dan kembali lagi ke sini 20 tahun lagi.

Begini ceritanya:

Jumat (20/3) lalu, Lembaga Pers Mahasiswa Progress dari Unindra di ibu kota sana menerbitkan tulisan opini berjudul "Sesat Berpikir Kanda HMI dalam Menyikapi Omnibus Law". Jujur aku salut. Dibutuhkan nyali sebesar planet Jupiter untuk menyenggol sikap raja-raja kecil itu yang memberikan dukungan penuh ke Omnibus Law. Bagi pihak luar, sikap mereka adalah mutlak. Meragukan dan mempertanyakannya sama saja dengan deklarasi perang. 

Tentu kamu sudah bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya, bukan? Ya, penulis opini tersebut dipukuli dan bahkan ditodong dengan parang oleh kanda-kanda HMI itu. Ah sudahlah aku tidak punya banyak waktu lagi. Temanku dari LPM Progress akan menjelaskan detailnya di sini

Pihak LPM Progress yang barusan kumintai konfrimasi mengatakan bahwa korban saat ini sudah dalam kondisi baik-baik saja. Mereka juga akan menginformasikan lebih lanjut apa tindakan mereka ke depan, apakah akan melapor pihak kampus atau polisi. Mereka nampaknya masih merundingkan hal itu. 

Masalahnya di sini tentu bukan sikap HMI Unindra yang mendukung Omnibus Law-- meskipun sikap itu patut dipertanyakan-- tetapi sikap tukang pukul yang pemerintah banget itu jelas menunjukkan seperti apa masa depan kita nanti jika kanda-kanda ini jadi pejabat teras di pemerintahan.

Katakanlah 10 atau 15 tahun mendatang kanda-kanda yang sudah jadi pejabat ini ingin membangun jalan tol bawah laut. Muncul banyak tentangan dari nelayan dan pegiat lingkungan hidup dan mereka berdemo di depan gedung DPR. Lalu para kanda yang taksenang dengan hal ini mengerahkan 1000 polisi bersenjatakan M16 dan memberondongkannya ke arah pendemo. Opini publik? Gampang, tinggal cari kambing hitam, bilang mereka anarkis. Mengerikan bukan?

Yang bikin tambah heran, apakah kanda-kanda itu tidak tahu kalau ada yang namanya hak jawab di media? Perseteruan di kolom opini itu hal yang wajar, loh. Kudengar mereka sering mengadakan kajian diskusi tentang berbagai hal termasuk tentang Omnibus Law ini mungkin, mengapa tidak dipakai saja hasil kajian itu untuk membalas opini yang mereka tidak setujui? Apa mungkin kajian mereka bukan diskusi, tapi kajian memainkan nunchaku dan mengayunkan parang mungkin. Kalau kajian mereka seperti itu, sikap mereka atas opini di LPM Progress itu akan terdengar lebih masuk akal.

Oh tidak! Waktuku sudah habis. Aku harus pergi sekarang. Anggap ini hanya kabar lalu, dan kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Oh iya, jika mereka datang mencariku, pura-pura tidak tahu saja ya.
  • Faris Al-Furqon

28 Days Later, Lalu Apa?


Saya adalah penganut paham bahwa semua dan segala bentuk karya seni adalah sebuah penggambaran –in someway or another- tentang perilaku manusia. Tak lepas jika itu sebuah novel Pramoedya Ananta Toer, atau sebuah lagu patah hati yang dinyanyikan oleh Nazriel Ilham, atau sebuah film horror thriller zombie yang disutradarai Danny Boyle pada tahun 2002, 28 Days Later

Film studio Fox Searchlight Pictures ini dibintangi Cillian Murphy sebagai karakter utama, Jim. Kita menemukan Jim dalam keadaan paling terbukanya, secara literal, telanjang dan terikat dengan kabel dan tabung infus di atas kasur rumah sakit. Setelah koma selama 28 hari, ia sama sekali tak sadar tentang apa saja yang terjadi di dunia, apakah dunia yang ia kenal telah berakhir atau tidak. Kita sebagai penonton sudah tahu betul mengapa Jim sendirian di rumah sakit tanpa ada yang membantunya. Film ini membangun tensinya dengan sangat ciamik.

    Film ini diambil dengan gambar yang bisa dibilang agak jadul untuk sebuah film 2002, malah hampir seperti menggunakan kamera genggam. Namun saya berani bertaruh bahwa grain buram dan pengambilan sudut gambar yang terkadang awkward ini adalah sebuah pilihan estetika sutradara dan Anthony Dod Mantle sebagai Sinematografer film. Memang untuk vibes film yang dibawakan, gaya pengambilan gambar seperti ini sangat mendukung ketegangan dan horor juga adegan emosionalnya saat muncul di layar. Sinematografi dan shot beberapa adegan film ini patut diacungi jempol.

    Banyak film zombie yang memilih untuk menjadi film laga dari awal atau malah mem-php kan penonton dengan melupakan unsur horornya di tengah film. Jim tidak serta merta menjadi pahlawan sakti yang anti peluru taktakut maut di akhir film, ia tetap orang biasa seperti kita semua (bedanya ia diperankan oleh Cillian Murphy).

Sebagai film horor, film ini berhasil dalam aspek seramnya. Zombie, atau infected, dalam film 28 Days Later adalah jenis yang cepat dan ganas, bahkan aktor/aktris yang memerankan mereka banyak yang memang bekerja sebagai atlet di dunia nyata. Kemudian virusnya, Rage Virus, ditularkan melalui darah dan mengubah korbannya menjadi infected hanya dalam hitungan 20 detik. Dalam opini saya –dan saya tak sembarangan dalam mengatakan ini- 28 Days Later tidak hanya mempunyai satu,  tetapi banyak adegan jumpscare efektif dalam sejarah menonton film saya.

    Antagonis dalam film ini, selain para infected, ialah para karakter tentara yang didatangi Jim bersama rekan penyintasnya setelah mendengar broadcast mereka di radio. Antagonis suatu cerita yang baik, membawa audiens ikut bersimpati atau setidaknya paham tentang motivasi sang tokoh. Menurut saya, kekurangan film ini datang dari tidak lengkapnya latar belakang sang antagonis. Kita hanya tahu “apa” tapi tidak “mengapa” tentang motivasi mereka. Karakter mereka juga digambarkan sangat brengsek, sehingga kita sebagai audiens sulit untuk ikut bersimpati dengannya.

Film ini membawa tema yang umum, good vs evil. Dengan tokoh utama Jim yang bertemu dengan kendala yang harus ia hadapi, para infected ataupun Mayor Henry West. Hal saya dapatkan dari menonton film ini agak klise, tapi benar adanya, “Di dunia yang penuh monster, keburukan paling rendah datangnya dari manusia juga”. Dan hal ini membuat saya berpikir, jika hal ini terjadi, benarkah kita hanya punya 28 hari sampai tiang-tiang kemanusiaan yang kita ketahui rubuh taktersisa?

Tapi tenang, wabah yang marak pemberitaaanya diakhir-akhir ini tidak akan seekstrem Rage Virus difilm ini. Asal kita menyikapinya dengan bijak, tidak panik, dan menjaga diri untuk tidak mengikuti pertemuan yang tidak mendesak, kita akan baik-baik saja. Jangan memborong barang di super market sampai ludes, jangan menyebarkan berita tanpa mengetahui faktanya terlebih dahulu, dan sesuai himbauan rektor univeristas tercinta kita, #TidakAbaiTapiJanganLebay.

Now playing “We’re All In This Together – Highschool Musical”
  • Dzaky A

Kabar Baik Adalah Kabar Baik


Di antara terbatasnya kata kerja yang dapat kita lakukan dan rentetan kabar buruk yang menghantam kita akhir-akhir ini, kata positif ternyata bisa bersilang makna jadi sebaliknya. Akan tetapi, kabar baik tetaplah kabar baik yang harus segera disebarkan pada kalian semua.
  1. Wisma Atlet jadi RS Korona
Sejak Sabtu kemarin 21/3 pemerintah telah menyulap wisma atlet kemayoran menjadi rumah sakit khusus korona. Sehari sebelumnya dokter-dokter muda (dokter berusia masih muda) TNI terlihat menyeret koper dan berjalan mendatangi wisma atlet untuk bertempur melawan pandemi hari ini.
Menkes Terawan menyebutkan bahwa RS Darurat ini hanya akan menampung pasien virus korona dengan gejala ringan, sehinggan RS rujukan bisa fokus menangani pasien dengan gejala berat. Tapi meski begitu tidak sembarang orang bisa diperiksa, pasien masih harus mendapat rujukan dari RS untuk bisa masuk ke rumah sakit darurat itu.
  1. Rapid test sudah diberlakukan
Dunia belum berakhir, Sobat. Di ujung sana masih ada harapan dan kita akan menjemputnya.
 
Tes cepat atau rapid test sudah mulai diuji coba di wilayah yang diberi tanda merah, Jakarta Selatan. Pada Jumat lalu 20/3 bersama dengan tim dari Kemenkes, Suku Dinas Kesehatan Jaksel dan puskesmas setempat turun ke lapangan untuk melakukan rapid test.
 
Hasilnya jelas telah menaikkan jumlah kasus pasien yang mengkhawatirkan, tapi kenaikan itu bukan kabar buruk untuk kita. Seperti ruangan yang memiliki banyak lampu, dilakukannya rapid test sama seperti menyalakan lampu-lampu mati di ruangan itu, segala hal yang tadinya gelap kini terlihat. Setelah ini, kita harus mempersiapkan diri untuk tidak khawatir seandainya media terus mengabarkan lonjakan terkait kasus korona, karena setelah ini kabar baik pasti datang, dan kabar baik yang akan datang hari itu adalah berita yang sudah kita tunggu dalam ketidakberdayaan.
 
  1. Tes masal Covid-19 di Jawa Barat
Lewat cuitannya di twitter, Ridwan Kamil mengabarkan jika Pemprov Jabar akan memulai kembali program tes proaktif yang telah digalakan sejak minggu lalu. Rapid Diagnostic Test menjadi metode yang dipilih untuk melakukan tes masal kali ini.

Rencana tes masal akan dilakukan dengan multi opsi yakni opsi door to door untuk orang yang diwaspadai (ODP/PDP) dan dhrive thru atau lantatur –layanan tanpa turun- untuk masyarakat umum di lapangan parkir yang sangat luas.

Selain mengacu pada pemerintah pusat metode ini telah teruji di Korea Selatan dengan hasil yang memuasakan. Meski seperti yang kita tahu bahwa antara kita dan Korsel banyak catatan yang mesti diperbaiki.

Semoga hari-hari ke depan situasi kian membaik.
Simpan dulu hati dengkimu untuk pemerintah, meski semua kabar baik adalah rencana dan masih harus melalui proses panjang. Memang masih banyak catatan yang harus pemerintah kita lengkapi terkait rencana mereka, namun kabar baik adalah penawar paling ampuh dari pikiran buruk dan kegelisahan kita terkait pandemi hari ini.

Kita masih perlu menjaga jarak agar korona yang menyebalkan tidak beranak pinak sesukanya dan alasan paling utama; negara yang santun ini belum menjamin kesehatanmu. Tetap tenang dan berdoalah; semoga hari ini pemerintah tidak sedang bercanda. Amin.

Mari. Kita masih harus bertahan, sehari, dan sehari lagi.
  • Dongenganjil

0 komentar: