Foto: Felisitas Dhwani Wihangga Gosipin Tambang, Yuk! Who controls the present now controls the past Yulius Isyudianto dan orang-orang di ...

I remember you as you were last autumnšŸ‚

 

Foto: Felisitas Dhwani Wihangga
Gosipin Tambang, Yuk!
Who controls the present now controls the past
Yulius Isyudianto dan orang-orang di PT Yudhistira Bumi Bhakti mungkin akan mengingat Agus Suparmanto sebagai penipu ulung. Warga Kampung Buli di Halmahera, Maluku mungkin akan mengingat Agus Suparmanto sebagai lintah ganas. Dan kita mengenal Agus Suparmanto sebagai Menteri Perdagangan di kabinet sekarang. Melihat ingatan orang-orang terhadap Agus Suparmanto yang bermacam-macam itu, tentu ada petualangan seru di baliknya. Ayo mundur belasan tahun ke belakang untuk mengetahui bagaimana Agus bisa diingat sebagai penipu, lintah ganas, dan belakangan menteri itu.

Waktu itu awal 2000-an. PT Antam, BUMN di bidang pertambangan menemukan 220 juta ton cadangan nikel basah di pedalaman Maluku, tepatnya di kampung Buli, Halmahera. Cepat-cepat mereka gelar tender untuk menentukan perusahaan mana yang akan mengeluarkan isi perut bumi itu.

Pramono Anung-- sekarang jadi Sekretaris Kabinet-- dan Yulius mendengar kabar itu. Lewat PT Yudhistira milik mereka, peruntungan dijajal, namun modal mereka tidak cukup bila akhirnya nanti memenangi tender itu. Bak seorang santo, Agus yang dulu masih menjadi pengusaha, datang menyalakan kembali harapan PT Yudhistira. Kala itu ia memang tengah sukses di bidang percetakan. Olehnya perusahaan itu disuntik 58 miliar Rupiah. Ada satu nama lagi yang menjadi investor, Miming Leonardo, tidak perlu diingat, tidak begitu penting.

PT Yusdhistira memenangkan tender. Antam yang memenangkannya beralasan bahwa rencana PT Yudhistira paling ramah lingkungan dan mereka juga akan mengurus konservasi alam setelah proyek selesai, walaupun harga proyek jauh lebih mahal dari yang ditawarkan peserta tender lain. Proyek pun akan dimulai pada 2001 dan akan berakhir 2004. 

Proyek sudah gol, waktunya membuat rencana bagi hasil. sebagai investor, si calon menteri masa depan dan Miming Leonardo akan kebagian 70 persen keuntungan. Yulius sebagai komisaris PT Yudhistira dijanjikan 10 persen dan Pramono Anung sebagai pemilik dapat 5 persen. Beberapa operator di lapangan mendapat sisanya. Syaratnya saham Yulianus dan Pramono diserahkan ke Agus dan Miming. Otomatis Agus dan Miming memimpin perusahaan saat itu.

Masalah datang pada 2013-- proyek diperpanjang. Laba proyek kala itu mencapai 2,7 triliun. Yulius, jajaran komisaris lain, dan operator berhak mendapat 1 triliun. Namun Agus seperti bandar arisan yang kabur ke Jawa saat ditagih komisi oleh Yulius. Sempat dilaporkan ke polisi oleh Yulius, akhirnya Agus melunak. Dia mengontak Yulius, dan menawarkan uang 500 miliar asal laporan dicabut. Sebagai komitmen, 30 miliar sudah dikirim ke rekening Yulius. Kesepakatan ditandatangani namun tidak tertulis bahwa Agus akan membayar 500 miliar.  Kecerdikan strategi Agus sempat membuatku berpikir kalau ia adalah Sun Tzu atau Henry Kissinger di kehidupan sebelumnya. 

Kalau sudah begini, Yulius hanya bisa meratapi kecerobohannya. Laporan atas penipuan yang dibuatnya kembali pada Januari lalu dianggap kurang bukti oleh polisi. Agus lewat pengacaranya juga menolak semua tuduhan Yulius. "Apa buktinya Agus berjanji memberikan 500 miliar? Laporan itu fitnah yang bertujuan menjatuhkan reputasi klien saya," kata pengacara Agus saat diwawancarai  Tempo

Kejanggalan lain juga tidak kalah menarik untuk digosipkan. Nilai proyek ini kata Yulius dikerek setinggi-tingginya oleh PT Yudistira dan direstui dengan mudah saja oleh PT Antam sebagai penentu izin proyek. Nilai proyek pada tahun 2007-2009 mencapai 22,7 USD per WMT (wet metric ton), padahal nilai proyek serupa di wilayah Halmahera yang lain hanya 11 USD per WMT. Entah untuk alasan apa Antam mau mengeluarkan uang lebih banyak dari yang lainnya untuk dua proyek yang sebenarnya bernilai sama. Yulius sendiri tidak bisa apa-apa karena sudah tidak berurusan dengan manajemen kala itu.

Kejanggalan lain juga terjadi ketika PT Yudistira ditunjuk langsung oleh Antam untuk perpanjangan kontrak selama 13 tahun berturut-turut dari 2001-2014. Padahal kontrak berakhir tiap dua tahun sekali, dan menurut Keputusan Presiden nomor 80 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, setiap proyek yang digarap swasta harus melalui sistem lelang. Apa yang terjadi di balik Antam dan Yudisthira tentunya abu-abu. 

Bagian paling sedih ada di sini. Ingat mengapa PT Yudistira memenangkan tender? Ya karena proyek mereka dianggap ramah lingkungan dan mereka akan mengurus konservasi alam pascaproyek. Kenyataannya warga Kampung Buli, tempat proyek ini berlangsung sekarang menderita. Gunung ditebas dan dibiarkan begitu saja. Nelayan kehilangan ikan karena limbah pasir bekas cucian nikel. Air untuk mandi dan minum juga tercemar oleh sisa nikel yang belum terambil. ISPA membunuh sembilan orang di Kampung Buli. Air, tanah, udara mereka dirampas. Penderitaan warga Buli  nampaknya jauh lebih besar daripada saham yang dipegang Agus Supramanto di PT Yudistira.

Dan sekarang Agus Suparmanto menjadi Menteri Perdagangan. 

Tulisan ini disarikan dari lima laporan investigasi di Majalah Tempo edisi 29 Maret 2020
  • Faris Al-Furqon

Surat dan Perangko

Pos…pos…!
 
Ada surat berperangko datang setelah sekian lama manusia terbuai oleh WhatsappLine, dan macam-macam aplikasi chat yang canggih. Surat ini tanpa nama dan hanya tertulis, “Untuk kaum muda yang sedang resah-gundah-gulana menghadapi Long Distance Relationship di masa-masa Covid-19”. Surat ini kubuka dan isinya tidak terlalu panjang:

    “Hai, kaum muda. Akhir-akhir ini aku melihat dan mendengar banyak keluhan dari kaum kalian tentang hubungan yang jadi LDR karena Covid-19. Keluhan itu banyak muncul di TwitterInstagramFacebook, dan sosial media lainnya. Rasanya jadi ikut prihatin dengan kondisi yang tidak biasanya dialami oleh kaum non-LDR. Tapi, mengeluh dan memikirkannya terus-terusan juga tidak baik untuk iklim hubungan kalian. Bisa-bisa malah jadi sering berantem karena jarang bertemu. Mending lakukan hal menarik, seperti berkirim surat menggunakan perangko.

    “Di abad 21 hampir seluruh manusia meninggalkan dunia surat cetak. Kantor Pos dipenuhi paket barang-barang, perangko tidak selaris dulu, bahkan kotak pos—berwarna oranye yang dulu ketika kita SD selalu penuh—kosong. Sekarang manusia lebih memilih mengirim surat dengan paket yang bisa dilacak status pengirimannya. Rata-rata, tingkat kesabaran manusia jadi menurun, mau yang segalanya cepat dan pasti. Padahal, Kantor Pos masih menerima jasa pengiriman surat maupun postcard dengan menggunakan perangko, lho, seperti surat yang kukirim ini.

    “Mengirim surat dengan perangko itu gampang dan murah. Kalian hanya perlu menyiapkan kertas, amplop, perangko, lem kertas, dan pulpen untuk menulis tentu saja. Kertasnya bisa menggunakan kertas apapun, ditulis model bagaimanapun, sabeb! Amplop juga boleh yang polos maupun bermotif. Kalau perangko, kalian bisa membelinya di Kantor Pos, masih dijual kok. Tapi, kalau kalian pemalu atau pemalas, bisa juga beli di online shop, banyaaak yang menjualnya. Saranku sih tetap jangan males karena kalian juga akan tetap ke Kantor Pos nantinya untuk menyerahkan surat.

Kalau udah punya semua amunisi di atas, segera tulis perasaan-perasaan yang akan kalian bagikan. Boleh satu halaman atau satu kata saja. Kalau sudah, masukan ke dalam amplop. Di bagian depan amplop, tulis nama penerima, alamat, kode pos, dan nomor hp supaya jelas. Di bagian belakang amplop (yang ada perekatnya), tulis nama kalian sebagai pengirim. Lalu di mana sih letak perangko? Perangko ditempel di halaman depan amplop, pojok kanan atas—di atas nama penerima tadi. Sudah deh, tinggal bawa saja ke Kantor Pos dan tunggu sampai suratnya tiba di tangan penerima.

Tapiiii…, sabar, ya, remaja. Mengirim surat dengan perangko butuh waktu sekitar 5-7 hari di sekitar Pulau Jawa dan 7-10 hari di luar Pulau Jawa. Juga, surat ini tidak bisa dilacak status pengirimannya. Jadi jangan bawel dan gelisah terlalu sering. Sabar dan tunggu saja. Pasti reaksi penerima juga tidak sebiasa ketika menerima WA, Line, atau apapun yang sudah biasa kalian lakukan. Surat ini datang bersama dengan kasih sayang, ketulusan, dan kesabaran. Paket komplit dan dijamin bikin gemes!
Dimanapun,

Siapapun.”

Surat tadi kuterima 
  • Felisitas Dhwani

Memanfaatkan Kewarasan di saat Karantina

            Apa kamu sehat? Semoga kamu selalu sehat tubuhnya dan pikirannya. Sudah berapa hari self-quarantine? Semoga kamu tetap tahan dan menjalani hari-hari senormal mungkin. Di masa physical distancing ini aku tebak kamu banyak melakukan kegiatan-kegiatan time killer seperti mengobrol dengan kekasih via daring, bermain ­game, bermain dengan hewan peliharaan, dan lainnya. Tapi bagaimana bagi kamu yang tidak punya pacar? Atau kamu punya pacar yang sibuk bercumbu dengan orang lain dan tidak memedulikanmu sebagaimana ia tidak memedulikan Corona apocalypse ini? Atau bagaimana bagi kamu yang tidak ada kuota untuk ­men-donwload game, tidak punya hewan peliharaan, atau lainnya? Aku punya beberapa kegiatan time-killing alternatif untuk kamu yang demikian. Sebelumnya, aku menulis ini dalam keadaan waras haha. Tidak masalah bukan? sama halnya dengan psikolog yang mengobati pasien jiwanya. Oke, berikut adalah kegiatan alternatif dari aku untuk kamu di saat karantina.
  1. Mengobrol dengan Benda Sekitar
Bila kamu berpikiran aku akan menulis ‘mengobrol dengan teman’, maka kamu salah. Mengobrol dengan benda dirasa cukup aneh, tapi patut dicoba ketika kau pasrah dengan manusia. Tentu tidak terikat dengan mengobrol saja, kamu juga bisa membayangkan apa yang ada di benak suatu benda tersebut. Misalnya, kamu menatap pintu dan membayangkan “Cape ga ya jadi pintu?”
  1. Melamun
Melamun adalah upaya yang lebih ringan ketimbang mengangkat galon yang baru diisi ulang. Melamun juga dapat menembus ruang dan waktu, bahkan logika sekalipun. Tepat diterapkan bagi kamu yang raganya di rumah namun jiwanya di samudra. Berkaca dari keadaan sekarang, kamu bisa melamun perihal bagaimana kalau wabah ini diibaratkan seperti di film-film, yaitu ketika ada tokoh utama yang kotanya diserang wabah mematikan, kemudian ia mencari tempat paling aman. Dalam survival-nya ia dikejar-kejar zombie, dan akhirnya berhasil sampai di tempat paling aman di bumi yang ternyata sudah rata dengan tanah. Menurut kamu, sedang di bagian mana sekarang si tokoh utama ini?
  1. Bermain dengan Peliharaan
Bermain dengan peliharaan? Bukannya aku ini akan menuliskan kegiatan bagi kamu yang tidak punya hewan peliharaan? Jawabannya benar. Manusia sebagai entitas paling rumit di bumi memiliki daya untuk menjadi majikan atas entitas lain yang lebih lemah darinya. Kucing, anjing, kura-kura, llama bukan satu-satunya yang dapat dipakaikan kalung bernama. Kamu bisa menjadikan apapun menjadi peliharaan, selagi ia setia kepadamu. Aku sendiri memelihara dua dinosaurus plastik yang aku dapatkan di dalam kemasan penganan pilus. Barangkali kamu bisa memelihara tetikus laptopmu. Oh ya, urusan bisa diajak bermain atau tidak, itu bergantung pada imajinasimu (atau kewarasaanmu).
  • Ahmad Maula
Nona, bisa kah semalam kita menjelma udara ? Terhempas bebas dalam cemas, sebab

di belantara kita tersesat melayang layang pada simpul yang terikat. ingar-bingar suara mereriuh ricuh bergemuruh. aku larut, lebur, hancur sejadi jadi. Kau lepas segala dan kita berbagi semesta.
~x
Semesta dari Kaca

Dari batas jendela yang pudar
jalanan mengheningkan cipta.

Kita gelisah sebab duka
selalu menuntut tanpa aba
-tapi tidak, memang
tidak pernah muncul duga.

Kesepian hari ini
tidak mengenal dua empat per tujuh.
Kematian dan perpisahan tinggal
menunggu tempo jatuh.

Mendadak kita merasa tua
Uraturat hangout mulai kejang
Kafe menanti bibir kopi,
nasib minta diterjang
sedang tubuh kita yg bosan di ranjang
berteriak:

kami rindu tongkrongan.
 
~esokkuberitahu

0 komentar: