Foto: Felisitas Dhwani Wihangga Bagaimana kabar hari ini? Bukan, bukan. Tenang saja, ini bukan kutipan dari puisi yang terkenal di lingkar...

Hidup ini sederhana, maka berbahagialahūüí®

 

sdsdsd

Foto: Felisitas Dhwani Wihangga

Bagaimana kabar hari ini?


Bukan, bukan. Tenang saja, ini bukan kutipan dari puisi yang terkenal di lingkar tahun 2015-2016 itu, ketika kau mungkin saja masih mengenakan seragam putih abu (kalau salah, maafkan aku, ya?). Bukan, tenang saja. Bukan juga sekadar basa-basi seperti mantan kekasihmu yang bingung mau mulai obrolan dengan apa di media sosial akhir-akhir ini. Bukan, jangan khawatir. Ini bukan koreksi dari kesalahan penulisan apa kabar hari ini? begitu. Ini aku, yang ingin benar-benar tahu kabarmu bagaimana.

Aku baik, setidaknya, setelah tiga hari tidak keluar kamar kos. Setidaknya, setelah tiga hari tidak berani—atau lebih tepatnya malas—ke mana-mana, dan jadwal makan lebih seenaknya saja. Terpapar berita Covid-19 mungkin membuatmu mengalami gejala psikosomatis, sama sepertiku. Tetapi tidak mengapa, percayalah kau akan selalu sehat, seperti biasanya. Asal rajin cuci tangan pakai sabun dan semprot disinfektan pagi dan sore.

Covid mengubah kebiasaan kita, terpelanting seratus delapan puluh derajat, mungkin? Coba kau tengok ke luar sana, langit mungkin lebih bersih. Jalanan lengang, hanya sedikit kendaraan berlalu-lalang. Suasana menjadi lebih sunyi. Kau yang biasanya memaki jalanan karena macet, sekarang mengeluh karena sepi. Kau mungkin bosan, capek, dan jenuh menjalani aktivitas dari dalam bilikmu, seluas atau sesempit apapun itu. Namun mungkin juga ini cara Bumi menyembuhkan dirinya sendiri.

Belum selesai Corona, kau mungkin mendengar lagi Hanta. Jangan risau. Hanta sudah muncul dari 1950, tidak seperti Corona yang baru muncul beberapa bulan lalu. Hanta ditularkan dari tikus pada manusia, utamanya, sementara Corona ditularkan dari manusia ke manusia. Kau tidak perlu khawatir dan panik berlebihan. Nanti lama-lama jadi gangguan kecemasan. Tetap tenang, rawat dirimu, jaga kebersihan dan kesehatan. Atur napas, tetap waspada. Cari informasi dengan sebenar-benarnya dan sebarkan dengan setepat-tepatnya. Orang bodoh saja yang menyebarkan berita bohong. Kau jangan.
Ah, iya. Sibuk ngoceh ngalor-ngidul, aku jadi lupa kau belum menjawab pertanyaanku. Maaf, kadang manusia memang gagal menjadi pendengar yang baik. Apalagi generasi milenial yang individualis, sibuk mementingkan diri sendiri. Jadi, bagaimana kabarmu hari ini? Kuharap, kau sehat selalu, keluargamu juga. Kalau kurang sehat, jangan lupa rehat, meski kau dihantui setumpuk tugas, dan kau belum juga bergegas menyelesaikannya. Jagalah harapan dan doamu, supaya ini lekas berakhir.
  • Abstraksara

Gak bisa main dengan teman, main sendiri saja!

Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja, dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop, yang baru saja diservis karena konslet. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop yang baru saja diservis karena konslet, sebab terlalu sering dipaksakan untuk mengejarkan kerjaan yang berat. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop yang baru saja diservis karena konslet, sebab terlalu sering dipaksakan untuk mengejarkan kerjaan yang berat: bermain game.

Khusus untukmu, aku bisikan game-game seru yang dapat menggadai stres dan memupus bosan ketika tidak ada lagi yang ingin kau lakukan.
 
1. Mafia II
Untuk game PC yang pertama, Mafia II. Sesuai dengan judulnya, tema yang diangkat dalam game ini adalah dunia mafia. Perang, pembunuhan, dan penghiatan tak terelakkan dalam game ini. Alur cerita Mafia II tergolong singkat, hanya perlu sekitar delapan hingga dua belas jam untuk menuntaskan game ini.
 
2. Assassin's Creed II
Jika ingin game open world dengan dunia yang lebih luas, Assassin's Creed II adalah jawabannya. Tentu saja, game ini tidak asing bagi kebanyakan orang. Selain game yang tergolong ringan, Assassin's Creed II merupakan salah satu seri terbaik dari serial Assassin's Creed.
 
3. Two Point Hospital
Di tengah penuhnya rumah sakit oleh pasien COVID-19, mungkin kamu terbayangkan untuk memiliki rumah sakit sendiri. Game ini cocok sekali jika kamu merasa demikian. Siap-siap saja kedatangan pasien dengan kepala lampu!
 
4. Neighbours from Hell
Judulnya saja sudah mencerminkan bagaimana game ini akan berlangsung. Tetangga bajingan yang kerjaannya menjahali pemilik rumah yang hanya ingin hidup tenang dan damai. Jangan mengira kamu akan bertugas untuk mengusir tetangga biadab itu. Sebab, kamulah sang tetangga biadab!
 
5. Journey
Sebuah perjalanan. Hanya itu.
 
6. Unravel
Yang ini aku belum pernah main sih, tapi kelihatannya seru. Kalo kamu sudah main, beritahu, ya!
 
Selain untuk PC, ada juga rekomendasi game-game yang dapat dimainkan di ponsel kamu,  selengkapnya cari saja di Play Store, jangan malas.

1. Slither.io (Lowtech Studios)
2. Hide online – Hunters vs Props (HitRock Games)
3. Tiny Room Stories: Town Mystery (Kiary games)
4. Jangan Sampai Dipecat! (QuickTurtle Co., Ltd.)
5. Kembara Tsuki (HyperBeard)
 

 
  • Arsyad Mukhtarom

Belajar dari Sampar

 
Akhir-akhir ini kita sedang diresahkan dengan merebaknya virus Corona atau Covid-19. Badan Kesehatan Dunia atau WHO bahkan telah menetapkan Covid-19 ini sebagai pandemi. Artinya, saat ini, Covid-19 tidak terbatas lagi oleh kondisi geografis, tetapi sudah menyebar dan menjangkau daerah yang sangat luas, dan lebih dari itu, telah menjadi masalah global.

Menurut Kompas, per tanggal 25 Maret 2020 ini, virus Corona telah menginfeksi 422.829 orang di 197 negara. Dari total tersebut, jumlah kematian mencapai 18.907 kasus, sedangkan 109.102 orang di antaranya dinayatakan sembuh. Sementara di Indonesia, per tanggal 24 Maret 2020, total telah ada 686 kasus, dengan 30 pasien sembuh dan 55 orang meninggal. [1]

Wabah seperti Corona tentu bukan kali ini saja menjangkit dunia ini. Pada masa lalu pernah ada juga wabah yang bahkan jauh lebih mengerikan.

Pada abad ke-14, Eropa pernah dilanda wabah Pes. Pes merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia Pestis. Sejauh ini, wabah Pes menjadi salah satu pandemi yang paling mematikan dalam sejarah umat manusia dengan perkiraan korban mencapai 75 juta sampai 200 juta jiwa. Wabah ini dikenal sebagai kematian hitam atau black death.

Beratus-ratus tahun setelah peristiwa luar biasa tersebut, Albert Camus, salah seorang penulis besar Prancis, lantas menulis novel berjudul La Peste. Novel tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh NH Dini sebagai Sampar.

Dalam tulisan pendek ini, kita akan diajak melihat peristiwa Pes abad 14, memetik (sedikit) pelajaran dari novel Sampar, dan merenungkan epidemi virus Corona yang terjadi sekarang ini.
  1. Isolasi Bukan Sebuah Jalan
Teknologi-teknologi canggih seperti pesawat terbang dan kapal pesiar baru berkembang pada abad ke-20. Berabad-abad sebelumnya, manusia hanya bisa mengendarai kuda atau unta atau perahu layar untuk bepergian jauh. Selain itu, hubungan antar negara saat itu pun tidak seterbuka sekarang ini. Meskipun demikian, wabah Pes ternyata bisa menyebar dari Asia Timur sampai ke Eropa Barat hanya dalam waktu yang relatif singkat.

Jadi, apa yang dapat kita petik dari fakta tersebut?
Intinya, kita tidak dapat menyalahkan pengaruh globalisasi sebagai faktor utama penyebaran virus Corona dan isolasi atau lockdown adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan penyebarannya.
Karantina dalam jangka pendek memang sangat penting, tapi isolasi dalam jangka panjang akan menyebabkan kehancuran (kelaparan, dll) tanpa jaminan wabah Corona akan teratasi.
  1. Pertahaan Terbaik Manusia Adalah Informasi
Sejak zaman dulu, para ilmuwan terus berusaha menggali informasi bahgaimana epidemi bekerja dan bagaimana cara untuk melawannya.
Karena keterbatasan ilmu pengetahuan, orang-orang pada abad pertengahan lebih sering membiarkan wabah bekerja dan hanya menunggu wabah tersebut musnah. Inilah mengapa wabah seperti Pes pada zaman dulu bisa membunuh begitu banyak orang. Sedangkan hari ini, dalam waktu yang relatif singkat saja, para ilmuwan dapat segera mengidentifikasi berbagai informasi mengenai virus Corona ini. Baik itu cara pencegahan, gejala-gejala yang ditunjukan, bagaimana penularan terjadi, dan masih banyak lagi.

Tersedianya informasi yang lengkap dan kesadaran masyarakat seperti inilah sesungguhnya adalah pertahanan terbaik yang dimiliki manusia.
  1. Keganjilan Para Pemuka Agama
Dalam Sampar diceritakan bahwa ketika Pes melanda Eropa, otoritas Gereja menyebutnya sebagai kemurkaan Tuhan, kutukan, dan azab.
Saat pertama kali Wuhan diberitakan terjangkit virus Corona, orang-orang kita beramai-ramai mengatakan jika China sedang diazab Tuhan karena “kekomunisannya”, karena kepongahan pemerintahannya, atau karena pembantaian mereka terhadap minoritas Uighur.
Ketika virus Corona telah mewabah di Indonesia, anggapan-anggapan tersebut mendadak lenyap sama sekali.



Hari-hari ini, Pemerintah terus menggalakan kampanye social distancing untuk mencegah penyebaran virus Corona. Dan, karena tokoh-tokoh Agama memiliki publik tersendiri, mereka semestinya menjadi salah satu pioner dalam upaya pendidikan masyarakat ini. Namun kenyataannya, mereka justru kerap membuat kita geleng-geleng tak habis pikir.
Keganjilan-keganjilan itu misalnya ungkapan beberapa tokoh Agama yang menentang fatwa penggantian salat jumat dengan salat dzuhur di rumah. “Umat Islam Jangan takut dengan Corona, takutlah terhadap Allah,” teriak mereka.

Atau pernyataan sekelas mantan Pangab, Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo, yang justru menyerukan gerakan memakmurkan masjid dan salat berjamaah di tengah wabah virus Corona yang semakin mengganas.

“AYO MAKMURKAN MASJID & GALAKKAN GERAKAN SHOLAT BERJAMA’AH UNTUK MINTA PERTOLONGAN ALLAH..!! (Jadikan Sholat & Sabar Sebagai Penolongmu..!!) Virus Corona (covid-19) adalah ciptaan Allah dan yg kena pasti juga atas ketetapan Allah.” [2]

Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang pendeta dalam sebuah kebaktian. “Beberapa gereja besar di Jakarta meliburkan jemaah hanya karena virus Corona. Mereka menampakkan diri bahwa Tuhan kalah dengan virus … Hidup kita bukan di tangan virus. Virus punya mata. Sasaran dia hanyalah orang-orang yang jauh dari Tuhan.” [3]
 
Selain pesan penuh haru para dokter dan pegiat kesehatan yang terus mewanti-wanti soal social distancing—untuk menghindari keramaianmemang selalu ada saja orang-orang yang sebaliknya, yang dengan penuh bangga menunjukan kekopongan kepalanya. Huhu. Selamat “libur panjang!” Jangan lupa bersabar dan tetap menjaga kesehatan!
  • Aflaz Maosul

0 komentar: