Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu Eh, kamu. Ayo sini masuk! Halo. Selamat datang di Jalang Kasih Kabar, produk terbaru kami. ...

Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu

 

Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu

Eh, kamu. Ayo sini masuk!

Halo. Selamat datang di Jalang Kasih Kabar, produk terbaru kami. Seperti lab milik Jose Acadio Buendia yang mampu menghasilkan alat-alat navigasi canggih semacam astrolab, kompas, dan sekstan, di sini kami berniat menjadikan newsletter ini sebagai ruang eksperimen dan bermain-main. Berbagai tulisan yang tidak memungkinkan untuk tampil di web, akan kami muat di sini secara berkala. Topik-topik yang selama ini juga tidak ada di web, akan kami jajal di sini. Makannya yuk ajak teman-teman kalian untuk daftar.

Kami selalu percaya bahwa Gelanggang dan warga sastra lain berhak dan harus memiliki wacana dan narasi sendiri. Lewat Jalang kami berusaha untuk menginstitusionalisasi itu, dan lewat newsletter ini kami mencoba untuk mengaktualkan segala isu terhangat di sekitar kita dengan perspektif kami sendiri. Tentu juga tidak lupa dengan topik-topik kesusastraan dan budaya. Intinya, kami ingin menjadi corong suara untuk kalian semua.

Sedikit cerita boleh ya

Mungkin kamu sempat bertanya-tanya ketika kemarin kami promosi newsletter ini. Ini ngikutin 5.45 milik Asumsi. Kayak nggak ada ide lain aja, katamu ke teman dekat setelah melihat unggahan promosi kami dan mulai menggunjingkan kami. Kami tidak akan menyanggah sangkaan itu. Desain template newsletter kami memang sedikit mengikuti 5.45 karena memang desain mereka cukup sederhana dan kami tidak punya referensi lain yang lebih menarik. Desain newsletter di Catch Me up, Brittanica, atau bahkan The Commoner yang sering menawarkan gagasan delusif tentang public source itu lebih mirip katalog parfum di majalah Elle.

Namun yang perlu kamu tahu, ide newsletter ini sudah kami rumuskan saat Desember akhir tahun kemarin. Ide ini tercetus ketika kami frustasi dengan rencana perilisan majalah. Rumitnya birokrasi di dekanat untuk pengajuan dana yang membikin kepala pening, memaksa kami untuk membatalkan rencana ini. Maka newsletter menjadi pelampiasan kami. 

Pada akhirnya kami memutuskan untuk menunda realisasi ide itu karena kami tidak ingin mengganggu liburan para anggota kami. Ke rumah nenek akan lebih enak jika pergi dengan pikiran yang tenang, bukan? Maka dari itu kami berencana untuk meluncurkan newsletter ini saat kuliah dimulai. Kegagapan kami terhadap teknologi dan bahasa Inggris makin menunda terbitnya newsletter ini. Rumit memang.

Apes together strong

Lalu setelah men-subscribe kami, apa yang akan kamu dapat? Apakah akan seperti 5.45 juga? Oh jelas tidak. Kami sadar, tim redaksi kami tidak memiliki vitalitas untuk menulis rutin dan daya jelajah yang cukup luas seperti tim redaksi pada media-media mainstream. Kami tidak akan mencoba mancaplok dan berlagak sok tahu tentang isu-isu mainstream. Kan sudah dibilang di atas, kami hanya ingin menyediakan ruang untuk wacana dan diskursus yang mandiri untuk warga Gelanggang dan warga sastra yang lain.

Ya, kamu benar jika membayangkan community based media seperti yang dikenalkan Kevin Howley  ketika kami bilang ingin menyediakan ruang untuk wacana dan diskursus yang mandiri. Sebagai komunitas lokal-- yang kami maksud di sini warga sastra, kita perlu memiliki kendaraan komunikasi sendiri, dan kami siap menjembatani hal itu. Informasi tentang apapun itu tidak harus melulu tentang Jakarta, bukan? 

Maka dari itu, berpartisipasilah dengan kami. Ceritakan kisahmu, tumpahkan segala gagasanmu, misuh-misuhlah tentang masalah di sekitarmu. Kami akan duduk manis mendengarkan dan mempublikasi semua omonganmu. Semua ini agar kita semua bisa berbagi keresahan bersama dan pada akhirnya memiliki kesadaran kolektif tentang apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita. Ingat: Apes together strong!!!

Kirim tulisanmu tentang apapun itu ke jalangglg@gmail.com 

Salam hangat,
 
    • Faris Al-Furqon

Gunadarma Malang, Kenapa Lagi?


Meski udara panas dan jalanan tetap berdebu seperti biasanya, Depok hari itu cerah. Orang-orang yang sebenernya mengenakan jas berwarna kelabu itu merasa bahwa jalanan hari itu adalah medan perang dengan tekad serta keresahan yang mereka bawa, diiringi seruan-seruan yang gahar membuat jas kelabu yang dikenakan mereka seperti baju zirah.

Ribuan Mahasiswa Gunadarma yang pada mulanya berkumpul di depan kampus E Universitas Gunadarma di Kelapa Dua, Depok berjalan dengan dada yang dibusungkan dan tangan terkepal serta urat-urat leher yang menegang melalui jalan Margonda Raya menuju kampus D pada Senin (9/3) untuk menuntut perbaikan sistem kampus.

Ribuan orang yang berkumpul sambil lantang bersuara menuntut suatu hal jelas bukan kabar baik bagi pemangku kebijakan. Kebijakan yang mereka pilih kini dapat hambatan dan artinya rencana mereka memandang hari depan yang sedikit cerah mesti ditekan.

Seruan atau ajakan untuk mengosongkan kelas telah dilakukan beberapa hari belakangan. Hari ini kuliah demokrasi, spanduk yang dibawa dalam gerakan aksi itu ditulis menggunakan pylox hitam. Tidak ada koordinasi, 2 BEMF dan ribuan mahasiswa dari segala penjuru Gunadarma hadir menyerukan tuntutan yang sama.
Ribuan mahasiswa datang dengan panggilan sendiri, karena merasa ada yang tidak beres. Mengumpulnya massa sebanyak dan semasif itu jelas tidak berpijak pada keresahan sepele saja.

Semeresahkan apa memang?

“Keresahan sebenarnya banyak. Namun yang kemarin dituntut hanya tujuh poin.” Jawab media mahasiswagunadarma dari akun twitternya @mhsgunadarma.

Beberapa tuntutan aksi kemarin masih sama dengan diskusi pertama pada 6 Maret lalu, yakni transparansi biaya kuliah dan transparansi anggaran, pemerataan fasilitas, serta kebijakan baru pecah blangko.

Berubahnya kebijakan pecah blangko membuat banyak mahasiswa kelabakan. Pasalnya, kebijakan pecah blangko kampus yang pada awalnya 50:50 yang berarti mahasiswa membayar 50% dari total biaya SPP dan menjadikan sisanya sebagai tunggakan dalam waktu yang telah ditentukan tiba-tiba saja berganti. Kebijakan baru pecah blangko dengan rasio 70:30 itulah yang menjadi masalah paling genting dan akar tuntutan dalam aksi kemarin.

Efek lain dari pecah blangko yang membengkak itu adalah jika mahasiswa tidak membayar cicilan sampai batas waktu krs dibuka mereka akan dianggap cuti dan andai tunggakan tidak dibayar hingga batas waktu yang ditentukan, nilai mahasiswa tidak akan keluar lalu dianggap cuti. 

Ketidakjelasan pihak kampus dalam aliran dana perkuliahan juga menjadi salah satu hal yang dituntut gerakan aksi. Semua jelas sepakat jika keterbukaan dalam hal transparansi dana yang menyangkut hajat hidup mahasiswa wajib dilakukan. Selain peraturan pemerintah no. 61 tahun 2010 yang mengatur itu, sebagaimana investor, mahasiswa harus mendapat laporan mengenai uang yang telah mereka keluarkan.

Terus apa lagi?

Sebagaimana termaktub dalam Lembar Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa Gunadarma, banyak sekali kebijakan kampus yang memberatkan mahasiswa. Poin-poin tuntutan mengarah pada pemerataan fasilitas di semua region Universitas Gunadarma dan menuntut kampus untuk melibatkan mahasiswa atau perwakilan dalam perancangan atau pembuatan suatu kebijakan. Selain itu, Aliansi Mahasiswa Gunadarma juga menuntut diberlakukannya statuta kampus, kejelasan sertifikasi profesi untuk semua mahasiswa, dan semua tuntutan ini diberlakukan di semua region kampus Gunadarma.

Kalau sudah begini, pihak kampus ngapain?

Ya berkelit.

Dilansir dari laman Tempo.co Budi Hermana yang menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi Universitas mengatakan bahwa ada miss persepsi, bahwa ada yang tak tersampaikan, bahwa tidak ada yang dirugikan. Singkatnya; kurang ngobrol.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan jika pihak kampus mempunyai banyak skema yang memudahkan keterbatasan finansial, sehingga banyak kemudahan bagi mahasiswa untuk dapat melanjutkan studinya.

Jika memang keadaan baik-baik saja seperti yang seolah ingin dikatakan Budi, tidak akan ada seruan aksi mengosongkan kelas dari media kampus, tidak akan ada  long march mahasiswa, dan ribuan mahasiswa yang berbondong-bondong menyerukan nyanyian yang berisi tuntuntan mereka hanyalah mimpi belaka.

Hasilnya, dalam kesepakatan yang diperoleh dalam audiensi terbuka dengan mahasiswa kemarin, pihak kampus akhirnya kembali membuka akses mahasiswa untuk melihat nilai bagi yang menunggak dengan tetap tidak mengesampingkan kewajiban mahasiswa untuk membayar SKS.

Rame ya, kampus orang.

Kampus kita sepi banget nih, gaada yang mau mutualan?

Mendengar kabar dan melihat gambar yang berserakan soal mahasiswa gundar mengingatkan saya (lagi) akan keluhan-keluhan kawan mengenai kebijakan kampus kita yang “sejuk” ini. 

Di antara beragam persoalan mahasiswa seperti uang bulanan, malas kuliah, dan kasih sayang, keluhan mengenai kebijakan pembayaran ukt terus berdengung setiap memasuki awal perkuliahan. Penyebabnya mungkin hampir silih berganti setiap semester, namun pokok masalahnya itu-itu juga; kebijakan kampus.

Ambil contoh yang dekat-dekat saja pada semester sekarang; batas pembayaran UKT. 

Pihak kampus akhirnya mengukuhkan 3 Februari sebagai tenggat pembayaran UKT. Semula, herregistrasi semester genap ditetapkan pada 15 Januari. Betul, dua minggu setelah kita rehat dari semester sebelumnya. Ngga kepikiran kan?

Penetapan itu bukan saja membuat kaget isi dompet orang tua kawan saya yang sedang memikirkan pembayaran untuk hal lain, tapi juga sedikit mengocok perut. Terlebih, masa penangguhan pembayaran UKT yang juga hanya berjarak dua minggu dari tenggat, membuat banyak tempurung kepala mahasiswa panas-dingin.

Apa yang bisa dilakukan dalam waktu dua minggu selain berbuat dosa? Banyak, tapi opsi untuk masa penangguhan UKT jelas tidak termasuk. Andai orang tua mahasiswa pemohon penangguhan adalah Bill Gates atau dirut BUMN atau siapapun yang bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam sekali bersin, tentu mereka tidak akan mengeluh. Tapi jika memang kondisinya seperti itu, sudah barang tentu kepala mereka tidak akan pernah memikirkan opsi untuk membayar saat tenggat apalagi memohon penangguhan.

Lagi-lagi birokrasi.

Entah kenapa, dari lama saya tidak pernah bersepakat dan tidak ingin bersahabat dengan istilah mengerikan itu. Pasalnya, selain ribet bin cape ketika diurus, istilah itu sangat berpotensi menghadirkan kata borok, bobrok, dan basi.  

Dari banyaknya keluhan ketika memohon penangguhan atau keberlanjutan studi, birokrasi jelas memiliki porsi paling besar. Urusan ke sana ke mari yang mengaitkan banyak pihak membuat kepala mahasiswa yang dari sananya saja sudah susah, jadi semakin payah. Prosedur yang dilewati dari hari ke hari pun ternyata belum tentu membuahkan hasil, sedikit saja yang mendapat asesmen dari kampus dan berhak mengajukan keberlanjutan studi, sisanya terpaksa membayar UKT seperti biasa, atau bagi mereka yang belum bisa membayar sementara waktu penangguhan telah berakhir hanya bisa meratapi nasib dan berharap sambil luntang-lantung.

Seandainya dunia ini hanya tersisa dirimu dan birokrasi tentu kamu lebih memilih mati daripada harus bersinggungan dengannya. Lagipula kita lebih akrab dengan kematian dibandingkan birokrasi.
Memang tidak bisa dipungkiri dan harus diakui bahwa mengurus kampus yang diisi oleh manusia yang bervariasi latar belakangnya tidak sama seperti mengayuh sepeda di jalan landai. Banyak orang berarti banyak pula informasi yang mesti diolah dan diverifikasi. Tapi, alih-alih membuat mudah, orang-orang yang mengurusi birokrasi lebih sering membuat muntab mahasiswa karena dari departemen ke departemen sering salah informasi dan kurang komunikasi.

Jadi, sebetulnya kampus kita ngga sepi-sepi amat kan?

Dari masalah, maksudku, ehe.
    • Dongengganjil

0 komentar: