Penulis: Muhammad Rizaldy Yusuf Editor: Faris Al-Furqon Desainer: M Haekal Solihin Kurang lebih, siang ini menjadi hari keenam dar...

Lebih Zombie dari Zombie

Penulis: Muhammad Rizaldy Yusuf
Editor: Faris Al-Furqon
Desainer: M Haekal Solihin



Kurang lebih, siang ini menjadi hari keenam dari pembatasan sosial (social distancing) bagi saya. Di rumah saja, seperti yang orang lain katakan. Hal tersebut tidak semata-mata saya lakukan demi menjaga kesehatan saya dan orang-orang sekitar, tetapi juga demi stabilitas kondisi ekonomi pribadi saya sendiri. Keluar rumah, selain berisiko menjadi korban dari pandemi yang terjadi, juga rasanya membuat saya miskin.

Atas hal itulah, kemudian saya memutuskan untuk memutar satu film di laptop saya: “World War Z” (2013). Setelahnya, saya menyadari ada satu adegan yang menyentil nalar saya, terkait dengan realitas sosial yang terjadi hari ini—tujuh tahun setelah film itu keluar. Tidak lupa, saya juga ditemani oleh lagu “Zombie” oleh The Cranberries saat sedang berusaha menuangkan gagasan saya ke dalam tulisan ini. Sengaja, biar mood saya lebih sesuai.

Kurang lebih 15 menit setelah film itu dimulai, diperlihatkanlah satu adegan ketika sang tokoh utama—yang diperankan Brad Pitt—memasuki sebuah supermarket untuk mencari obat asma untuk anaknya. Suasana supermarket itu kacau, berantakan, barang-barang seperti terlempar dari tempat yang seharusnya. Orang-orang tampak tergesa-gesa, lalu lalang ke sana kemari, bahkan sejak dari luar supermarket. Mereka memasukkan semua barang yang dapat mereka temukan ke dalam troli mereka. Kepanikan makin menjadi setelah ada beberapa orang yang terjangkit virus—yang sering kita sebut zombie—mulai menyerang dengan brutal.

Tetapi, bukan persoalan zombie yang bikin saya tersentak. Saya mengulangi dan mencermati adegan tadi beberapa kali. Lalu saya pikir, rasanya saya kenal fenomena ini, tapi tidak saya lihat di film, deh. Teringat di benak saya akan beberapa video yang akhir-akhir ini saya tengok di Twitter dan Facebook: orang-orang melakukan panic buying.

Ya, tentu pandemi yang sedang kita lewati bersama ini memang tidak separah di film-film seperti “World War Z”. Tidak ada orang yang kemudian menjadi agresif setelah terinfeksi dan kemudian menularkan penyakitnya lewat gigitan yang ganas (atau setidaknya belum?). Namun, virus COVID-19 yang sudah dinyatakan sebagai bahaya global ini rupanya sudah cukup untuk membuat beberapa di antara kita cemas akan kelangsungan hidupnya. Kemudian, insting bertahan hidup manusia yang sudah bersarang pada diri kita sejak awal peradaban ini mulai bereaksi. Hal tersebut memicu (sebagian dari) kita untuk memborong berbagai jenis perlengkapan yang dirasa perlu untuk membantu kita bertahan hidup, mulai dari masker, hand sanitizer, makanan, obat-obatan, bahkan sampai tisu toilet (tidak berlaku bagi yang masih menggunakan air).

Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa sejatinya hak untuk hidup berlaku untuk semua orang dan bukan milik kelompok tertentu saja. Lagipula, yang sedang kita alami ini tidak seperti bencana alam atau perang. Seandainya kebersihan dan persediaan makanan kita terjamin pun, kita tetap memiliki risiko untuk tertular jika enggan memberikan orang lain hak untuk menjaga kebersihan dan asupan gizi yang baik demi meningkatnya imunitas. Pandemi adalah persoalan mengenai nyawa orang banyak. Jika kita membiarkan orang lain terjangkit—bahkan mungkin hingga meninggal—demi egoisme kita sendiri yang ingin bertahan, maka sesungguhnya bukan virus itu yang membunuh mereka. Mungkin, kita juga yang mencabut nyawa mereka.

Bila sudah begini, sebenarnya siapa zombie-nya? Mereka, orang-orang yang terinfeksi yang dianggap menyebarkan kematian, atau kita, yang bertindak tanpa berpikir bahwa masih banyak yang lebih membutuhkan? Tidak perlu terinfeksi untuk menjadi agresif. Sesungguhnya, dengan mempertahankan ego dan mengesampingkan sisi kemanusiaan juga sudah tidak lagi menjadikan kita manusia. Pada akhirnya, kita menjadi lebih zombie daripada zombie itu sendiri. Anda yang panic buying, tapi orang lain yang malah jadi panic with their lives!

Berbelanjalah dengan rasional. Yang ingin sehat bukan Anda saja. Percuma Anda sehat, tapi tetangga Anda kena Corona. Yuk, jadilah manusia yang manusiawi, jangan jadi virus apalagi jadi zombie.
Kalau Baskara Putra alias Hindia pernah berkicau di Twitternya: “Mungkin kita virusnya”, maka izinkan saya menutup ulasan tidak jelas ini dengan kata-kata: “Mungkin kita zombie-nya”.

0 komentar: