Penulis: Ananda Bintang Editor: Faris Al-Furqon Desain: Nur Afidati Shabira Acap kali, membaca sejarah Indonesia terasa seperti memb...

Membaca Oetimu, Mengingatkan (Lagi) Indonesia Bukan Hanya Jawa


Penulis: Ananda Bintang
Editor: Faris Al-Furqon
Desain: Nur Afidati Shabira

Acap kali, membaca sejarah Indonesia terasa seperti membaca orang-orang Jawa yang heroik dan merasa mewakili sejarah orang-orang pelosok Indonesia. Dominasi orang Jawa dalam sejarah Indonesia berdampak pada rasa kepemilikan orang-orang pelosok Indonesia yang merasa sejarah nasional bukanlah sejarah mereka. Sehingga, sering kita mendengar beberapa wilayah pelosok Indonesia yang ingin memisahkan diri, karena sudah merasa tidak satu bangsa lagi. Melalui Orang-orang Oetimu, Felix K. Nesi mencoba memberikan sudut pandang masyarakat di pelosok Timor tentang Jawa, kekerasan, dan sejarah Indonesia secara jenaka namun memiliki kritik sosial yang cukup bikin terheran-heran.
Kalau bisa dibilang, novel ini tidak memiliki tokoh utama yang sentral, namun Sersan Ipi menjadi benang merah untuk berbagai sosok yang menarik dalam novel ini. Sebut saja Am Siki, seorang tetua yang membesarkan Sersan Ipi di Oetimu. Dari Am Siki, Felix mencoba untuk memberikan gambaran kemanusiaan yang lebih riil terhadap kekerasan dan perang. Am Siki membunuh tentara Belanda hanya karena mereka akan memperkosa kuda miliknya, namun masyarakat sekitar menyebut Am Siki sebagai pahlawan yang turut serta mengusir tentara Belanda dari Indonesia. Hingga timbul kutipan yang menarik dari buku ini “Jangan dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Jangan diperkosa sekalipun itu kuda.”
Felix juga mengangkat dua tokoh perempuan yang menarik dalam novel ini, Maria dan Silvy. Maria adalah seorang perempuan aktivis yang sangat membenci militer Indonesia dan juga Gereja. Kebenciannya terhadap militer menjadi-jadi ketika suami dan anaknya ditabrak unimog yang digunakan militer Indonesia saat kisruh Timor Timur, namun tidak ada pertanggungjawaban dari militer Indonesia dan dianggap kecelakaan yang tidak disengaja. Sedangkan Silvy adalah seorang perempuan cerdas dan cantik yang menjadi perebutan laki-laki Oetimu, hingga hatinya berlabuh pada Sersan Ipi.
Kehidupan Oetimu juga tidak terlepas dari Gereja. Melalui Romo Yosef, saya jadi lebih mengetahui kehidupan Gereja dan Pastor yang ternyata memiliki sisi manusianya juga. Seperti melakukan korupsi, pelecehan, dan lain-lain. Namun tentunya itu tidak dapat digeneralisasi, “Meski ada seribu tentara brengsek, bukan berarti kemiliteran itu brengsek. Meski ada seribu pastor tukang main perempuan, bukan berarti Gereja adalah penjahat. Meski ada seribu pejabat korup, bukan berarti kita tidak butuh negara.”
Membaca Orang-orang Oetimu adalah membaca serpihan borok Indonesia yang dipaksa sembuh oleh manipulasi sejarah Orde Baru. Bukan sekadar memanipulasi sejarah, Orde Baru juga berhasil membikin propaganda yang apik dan sistematis—seperti misalnya menyebarkan anggapan bahwa kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang tinggi dan terhormat melalui cara-cara represif ala pemerintahan otoriter. Tercermin dari keinginan Orde Baru untuk membentuk masyarakat yang harus memakan nasi atau berkulit putih langsat khas manusia Jawa. Namun, Oetimu adalah Oetimu, ia bagian dari Indonesia bukan bagian dari Jawa. Felix berhasil mengingatkan saya kembali tentang ragam wilayah Indonesia dengan kearifan bercerita dan budayanya. Pemerintahan yang represif menimbulkan berbagai cerita kekerasan yang sudah tergolong biasa di Timur Indonesia. Di sela-sela halaman novel ini pula banyak dialog yang berani dan secara tidak langsung menyindir, sekaligus mencerminkan betapa takutnya masyarakat Oetimu dengan militer. “Jangan mau ditipu oleh Soeharto dan orang-orang Jawa!” atau yang lainnya.
Jangan harap novel ini menyuguhkan peperangan yang mendebarkan berdarah-darah, karena novel ini memang benar-benar mengingatkan kita bahwa ternyata di pelosok Indonesia pada tahun reformasi, orang-orang berlomba menjadi Jawa. Tapi justru dengan realita seperti itu, Felix mencoba membangun sindiran bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, dan dalam novel ini ia berhasil mengingatkan lagi tentang hal itu.
Selain usaha pengingatan kembali tentang Indonesia bukan hanya Jawa, novel ini memiliki cakupan yang luas dalam merangkum sejarah Oetimu dan kekerasannya. Dari mulai kedatangan Portugis hingga keruntuhan Soeharto, ditulis dengan tempo yang cepat dan gaya bahasa yang pas, sehingga pembaca tidak mudah bosan dan membacanya terasa begitu cepat dan mendebarkan. Kali ini, saya rasa Dewan Kesenian Jakarta tidak salah memilih Orang-orang Oetimu sebagai pemenang.

“Di zaman Belanda, orang Indonesia yang ingin merdeka dibunuh. Di zaman Jepang, yang ingin merdeka dibunuh juga. Baru-baru ini orang Timor-Timur ingin merdeka, dibunuh juga.”

0 komentar: