Jangan Pulang Dulu, Jangan Hari Ini Seharusnya hari ini kita bertemu, aku membawakanmu sebuah novel yang kau pesan untuk dipinjam dan angi...

Menyaksikan Virus dari Beranda 🌺

 

Jangan Pulang Dulu, Jangan Hari Ini

Seharusnya hari ini kita bertemu, aku membawakanmu sebuah novel yang kau pesan untuk dipinjam dan angin Jatinangor sedikit menerbangkan ujung jilbabmu ketika tanganmu menggapai buku yang kusodorkan. Seharusnya orang-orang kesal karena tidak diperbolehkan masuk oleh dosen pengampu dan akhirnya berkumpul di bangbir seraya mengisap rokok dan segelas kopi yang diseruput bergantian. Tapi, kampus sepi hari ini, dan memang begitulah hal yang seharusnya terjadi.

Surat edaran rektor mengenai tindak lanjut kesiapsiagaan menghadapi eskalasi Covid-19 telah keluar menyusul dikeluarkannya surat edaran walkot Bandung. Terhitung mulai 18 Maret kegiatan tatap muka akan dikurangi secara bertahap dan mahasiswa jangan menganggap sepele pandemi hari ini, tetap waspada tapi tidak panik.

Melihat situasi hari ini mengingatkanku pada kondisi kota yang lengang, pintu-pintu rumah tertutup dan jerami-jerami bulat mulai bergelinding melewati layar seperti dalam film koboi. Tentu kita tidak berharap situasi yang demikian di kemudian hari, penyebaran virus harus diredam dan pembatasan sosial (social distancing) terbukti efektif di berbagai negara.

Terkait dengan menggelisahkannya situasi akhir-akhir ini, Lembaga Kemahasiswaan FIB telah melakukan rapat koordinasi dengan Pak Inu selaku Manajer Akademik dan Kemahasiswaan FIB yang kurang lebih hasilnya sama mengacu pada surat edaran rektor yang dikeluarkan sebelumnya. Notula rapat bisa diakses lewat postingan akun resmi BEM FIB Unpad.

Banyak hal yang disoroti dalam rapat kemarin, terutama apakah kegiatan akademik dan kemahasiswaan yang sudah dicanangkan jauh-jauh hari dapat terlaksana. Jelas jawabannya tidak, hari ini keselamatan manusia lebih penting dibandingkan kegiatan apapun.

Segala kegiatan kemahawiswaan yang berlangsung pada termin satu diimbau untuk dibatalkan atau ditunda dan dilaksanakan pada termin berikutnya saat situasi sudah mulai membaik. Meski begitu uang dari kegiatan yang dibatalkan tetap bisa digunakan pada kegiatan lain yang akan terlaksana. Satu hal lagi yang penting adalah kabar buruk bagi penghuni sekre, bahwa penting untuk ditaati agar tidak menginap di lingkungan kampus, seperti sekretariat.

Terhitung dua minggu ke depan dari 18 Maret 2020 imbauan dari hasil rapat koordinasi akan berlaku dan andai situasi tidak membaik maka dicanangkan sampai semester berakhir.

Sudah banyak sekali imbauan dan tata cara menjaga diri di berbagai media, yang perlu kita lakukan adalah terus memperbarui pengetahuan tentang kondisi terkini terkait virus dan Covid-19 ini.

 

Penting: Bagi mahasiswa FIB Unpad yang mempunya gejala Covid-19 dapat menghubungi Pak Inu (0877 – 8105 – 2467)

dan bagi mahasiswa Unpad dapat menyimpan nomor dan alamat penting terkait pandemi hari ini:

Web: www.unpadac.id/covid-19

Call center: 0821 – 1618 - 7892 (24 Jam)

Atau bisa langsung mendatangi tempat pelayanan kesehatan terdekat seperti Klinik Unpad Jatinangor dan Klinik Unpad Jalan Dipati Ukur.

Tetap waspada dan jangan anggap sepele wabah ini, tapi jangan panik.

 

Gak masuk dua minggu nih, pulang gak ya…
 

Jangan, kamu sayang kan sama orang-orang yang berharga di hidupmu
 

Bergantinya sistem kuliah menjadi metode daring (online) jelas menimbulkan banyak kegalauan, terutama bagi mahasiswa yang memiliki akses internet di rumahnya. Memang pihak kampus menyarankan untuk pulang dengan catatan menjaga diri di perjalanan. Tapi kita sama-sama tahu bahwa jalanan yang dimaksud hari ini tidak seramah itu.

Banyak kemungkinan buruk selain secercah harapan yang mengancam di sepanjang perjalan yang akan kita lakukan. Kita bisa saja menjadi ancaman bagi orang lain setiap kali melangkahkan diri keluar rumah. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa perjalananmu akan baik-baik saja, sama dengan tidak ada garansinya kalau besok kamu bakal tetap hidup.
 

Tapi, dua minggu bukan waktu sebentar dan kapan lagi kita bisa bertemu dan berkumpul dengan orang-orang tersayang.
 

Betul, sayang, tapi, kebutuhan bertemu bukanlah keinginan semu yang tidak bisa diredam dan memilih pergi tanpa memeriksakan diri serta memikirkan risiko perjalanan yang akan membuat kesehatan keluargamu terancam jelas tidak menjadikanmu seseorang yang bijak bestari.

Sambil memandang layar ponsel yang berisi wajah keluargamu, kamu bisa menuntaskan rindu hari itu sambil mengingat perkataan Jokpin bahwa jarak itu tidak pernah ada, pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

Kita tidak pernah tahu apakah keadaan kita akan tetap fit seperti hari kemarin, lagipula tidak ada yang tahu apakah Hukum Murphy –jika kesialan bisa terjadi, biasanya akan terjadi- tidak sedang mengincarmu dan apakah dirimu yakin tidak akan menjadi inang korona ketika sampai di depan rumah dan dipeluk keluargamu.

Melewati hari-hari yang suram seperti sekarang bersama orang-orang terkasih memang surga kecil yang diinginkan budak rantau, namun sekali lagi kita harus bersama-sama mengentaskan pandemi ini dengan melakukan pembatasan sosial untuk mengurangi penyebaran virus korona.

Jangan pulang dulu ya, besok kita bertemu saat pelangi datang.

  • Dongengganjil

Seperti film Contagion,

... Semuanya akan baik-baik saja.
Di rumah, kita butuh rekreasi sekaligus kontemplasi...

Di tengah semarak kalimat “Sampai waktu yang belum bisa ditentukan.” Setidaknya, kita masih bisa menentukan kapan menonton film Contagion. Film besutan Steven Soderbergh pada tahun 2011 ini, sedang hangat dibicarakan di tengah wabah pandemi COVID-19 atau biasa disebut Corona yang menjengkelkan itu.

Bukan, ini bukan film dengan deburan lagu-lagu religi dengan gambar ribuan mayat tergeletak di sebuah ladang. Atau video menyeramkan berwarna kemerahan yang memiliki keterkaitan dengan tujuh tanda-tanda kiamat.

Tapi, film ini menceritakan sebuah virus mematikan yang mewabah dan lagi-lagi berasal dari salah satu daerah paling padat di dunia, China dan Hongkong. Walaupun sama-sama menyerang pernafasan seperti Corona, virus yang mewabah dalam film tersebut lebih mematikan. Dalam beberapa detik, orang yang tertular virus tersebut bisa langsung kejang-kejang hingga tewas seketika, dan jumlah kematiannya pun berjuta jiwa.

Yang menarik dari film ini —atau lebih tepatnya yang mengerikan- adalah proses penyebaran virus dari tiap orang di suatu wilayah dan menyebar melalui kontak fisik, makanan, tombol lift, berbagai properti dan orang-orang yang habis bepergian dari luar negeri. Terasa familiar bukan?

Selain itu, film ini juga berfokus pada penggambaran dampak virus terhadap masyarakat yang sangat mirip dengan keadaan sekarang. Di mana semua orang panik untuk membeli berbagai kebutuhan, sekolah diliburkan, social distancing dan bagaimana media membentuk opini publik. Untungnya, di dunia nyata belum sampai ada kerusuhan dan penjarahan yang mengerikan.

Tak luput juga, intrik-intrik politik yang menyebalkan disajikan secara rapih dalam film ini. Walaupun tak ada kelakar yang tak perlu dari pejabat publik seperti anjuran meminum susu kuda liar, intrik politik di film ini membuktikan bahwa suatu wabah atau bencana bisa dipolitisasi sedemikian rupa untuk mendapatkan perhatian positif dari publik.      

Kalau hidup adalah sebuah film, tentu kita berharap menjadi bagian tokoh utama yang selamat dari sebuah bencana. Tapi sayangnya, hidup kadang tidak seindah itu. Dan film Contagion, memberi ketakutan sekaligus harapan dalam menghadapi suatu virus yang menjengkelkan ini. Bahwa semuanya pasti akan berakhir. Cepat atau lambat, Corona akan berlalu.

Baiklah Bung dan Nona! Sekarang tutup rapat pintu, siapkan selimut, tonton film ini di rumah. Tapi tenang, walaupun indoxxi ditutup pemerintah, kita masih bisa menonton dari website lain kok. Aku akan tetap ada dan berlipat ganda.

Ketik di google dengan kata kunci sebagai berikut, niscaya banyak saluran streaming yang tersedia: 

“Nonton film Judul Film Sub Indo” atau “Streaming Judul Film Sub Indo”

Atau menonton di netflix saja bagi yang memiliki uang lebih, hehehe...

Berikut juga list film dan series lain yang sepertinya layak ditonton dalam 14 hari ini:

Safe (1995)
Breaking Bad (2008)
The Flu (2013)
Chernobyl (2019)

Selamat menonton.
  • Ananda Bintang

Imajinasi 🌈🌈🌈
 

Dua minggu ke depan mungkin akan jadi hari-hari yang sangat menyiksa. Tidak ada kuliah, senda gurau ringan dengan teman, bergosip, berjalan bareng ke kantin, atau berpapasan dengan orang yang diam-diam kamu sukai sambil berharap dia membalas senyum tipis yang kamu pamerkan. Semua makin parah ketika kabar tentang buruknya penanganan pemerintah atas penyebaran virus ini berseliweran di linimasa sosial media dan membuatmu ketar-ketir. Mengurung diri di rumah adalah satu-satunya opsi logis yang bisa dipilih.
 
Tapi tenang, Handai taulan. Banyak kok hal yang bisa kamu lakukan di rumah. Melamun adalah salah satunya. Sangat tidak produktif, bukan? Tapi saat-saat seperti ini adalah waktu yang pas untuk tidak produktif. Hari-hari kemarin kamu sudah terlalu banyak bekerja, terlalu banyak mengerjakan tugas, membaca jurnal-jurnal dari scholar yang buruknya minta ampun, dan rapat himpunan yang membuatmu menyesal mendaftar ke organisasi acak-acakan itu.
 
Sekarang ambil bantal dan selimut, buka ponsel, dan masuklah ke spotify. Kami akan merekomendasikan musik-musik yang asyik dan cocok untuk dipakai stargazing sambil membayangkan hal-hal kecil nan sederhana yang bisa kaukenang sesekali.
 
  1. Rhoma Irama - Sebujur Bangkai
https://youtu.be/PdXljK7LRKU

Apa yang akan terlintas saat mendengar lagu ini bukanlah kematian. Lagipula siapa sih yang mendengar lagu dangdut dari liriknya. Barisan verse dan chorus yang di-loop berkali-kali di lagu dangdut bukan diciptakan supaya kamu bisa meresapi liriknya, tapi bagaimana kamu menghayati suasana.
 
Dan suasana apa yang identik dengan lagu ini? Yap, pemancingan. Air yang tenang, tali joran yang mengendur, bunyi pancuran air yang statis, dan aroma racikan umpan dari pelet, esens vanila, dan campuran wafer ini mampu membuat mantra sihir menghentikan waktu. Lagu ini dan lagu-lagu dangdut konvensional dengan vibes pemancingan yang lain mampu membalikkan kita ke ingatan lalu tentang keputusan-keputusan besar yang kita ambil, hal-hal baik yang terjadi pada kita, dan sedikit membayangkan mau jadi apa kita 10-15 tahun ke depan. Tidak perlu jadi pemadat untuk bisa halu seperti ini.
 
  1. Sabilulungan
https://youtu.be/juE-LXj3BQE

Tidak bisa pulang ke rumah? Ingin bertemu ayah dan ibu? Oh tidak usah risau. Setel lagu ini. Niscaya bukan cuma ayah dan ibu yang kautemui, tapi sekeluarga besar.
 
Dua puluh detik pertama lagu ini akan langsung membawamu ke ingatan kondangan paman jauhmu di pedalaman Garut sana. Bisa kamu ingat kembali panjangnya antrean es krim dan zuppa soup, dan bercengkerama dengan paman dan bibi tentang perkembangan pendidikanmu. Kamu juga ingat ternyata gadis cantik di kejauhan sana adalah sepupu jauhmu. Pulangnya, salah satu pamanmu menyodori uang 100 ribu sambil bilang, "nih buat jajan"
 
Ah, kondangan memang membawa suasana guyub yang kuat.
 
  1. Background musik acara masak Bu Sisca di Indosiar
https://youtu.be/rjLl8-YK7zw

Oh kamu nggak begitu dekat dengan keluarga besar? Atau ternyata paman dan bibimu kerap meremehkanmu yang ambil IPS dan masuk sastra? Kamu hanya ingin bertemu ayah dan ibu? Dan kamu juga ingin kembali ke masa kecil saat hubungan kalian sekeluarga masih baik-baik saja? Ah banyak mau, tapi tetap bisa diwujudkan kok.
 
Seperti folklore, kita tidak pernah benar-benar tahu siapa maestro di balik karya legendaris ini. Sesaat melodi flute di lagu ini mengalun, saat itu juga ingatan akan membawamu ke Sabtu pagi 15 tahun lalu dan kaulihat sesosok ibu berambut bob yang kaukira Megawati sedang memasak ayam rica-rica di layar kaca. Ayahmu sedang memandikan motor di halaman dan ibumu sedang di dapur menyiangi ikan mas untuk sarapan. Memori yang indah, bukan?
 
  1. Richard Clayderman - Ballade pour Adeline
https://youtu.be/eCCan3TFPoc

Lagu yang dipopulerkan oleh Gramedia ini sangat menenangkan. Rasa frustasi saat terus-terusan berjumpa dengan buku-buku wattpad, buku motivasi, dan kajian islami, dan tidak menemukan buku yang kaucari, mampu termaafkan oleh suguhan piano dari Mas Richard ini. Di tengah kekhawatiran masif sekarang, aku yakin lagu milik Mas Richard ini masih cukup sakti untuk menenangkanmu.
 
  1. Rage Against The Machine - Take The Power Back
https://youtu.be/rqkMsXcHQYg

Sudah puas bermalas-malasan dan bermain-main dengan kenangan? Saatnya revolt!!! Virus itu boleh saja mengandangi kita dan menakut-nakuti kita dengan ancaman kematian sekejap.
 
Namun kemarin, yak baru saja kemarin, aliansi buruh se-Jawa Barat dan mahasiswa menggelar aksi demo menentang pengesahan Omnibus Law RUU Cipta Kerja di depan Gedung Sate. Instruksi lockdown? Imbauan social distancing? Cih, martabat dan harga diri lebih penting, bos. Kawal terus perkembangan RUU sialan ini. Jangan biarkan virus ini melengahkanmu. Kalau perlu, mari rebut kembali kedaulatan kita di jalanan. Lebih baik langsung mati karena virus daripada mati pelan-pelan karena diperlakukan seperti sapi perah. Angkat tinjumu tinggi-tinggi dan teriakkan:
 NO MORE LIES AND WE GOTTA TAKE THE POWER BACK!!!
 
Huft... Jadi emosi kan
 

 
    • Faris Al-Furqon

0 komentar: