Penulis: Muhammad Averyl Aziz Editor: Arsyad Dena Mukhtarom Desainer: Nur Afidati Shabira Bu Arsitek, bu Arsitek... Sudah makan hari...

Surat Untuk Ibuk yang Ada di Institut Tamansari Bawah

Penulis: Muhammad Averyl Aziz
Editor: Arsyad Dena Mukhtarom
Desainer: Nur Afidati Shabira


Bu Arsitek, bu Arsitek... Sudah makan hari ini? Aku baik, bersama semua linu yang bebannya hanya ada di kepalaku. Sudah lebih baik? Pasti sudah lebih baik. Dahulu juga rasa-rasanya kamu selalu baik-baik. Baik, kenapa harus bertanya seperti itu sementara wajahmu yang makin hari makin cemerlang diguyur panas disinari hujan? Udara kota itu membuatmu lebih segar setiap kali aku mencoba mengingat paruh lancipmu.
Oh iya, apa kabar ibumu? Ayahmu? Kakek, nenek, atau mereka yang sudah meninggalkan kita semua? Kau begitu parau diingatanku sehingga inginnya bertemu. Apa daya rumah menjadi tempatku bersemedi untuk beberapa bulan ke depan. Benar, baikkah kamu? Syukurlah, kuyakin kamu baik saja. Terlihat dalam gawai yang layarnya sudah retak, kuotanya hampir habis. Wajah itu, lewat begitu saja minta ditekan kuat-kuat. Lagi pula, tak ada virus pun mustahil bagiku bersua denganmu, bu Arsitek.
Bu Arsitek, bu Arsitek... Hebat. Bangga. Itu saja yang bisa kuucapkan lewat kejujuran yang sedari dulu selalu berontak minta diutarakan. Perempuan sekecil dan semanja itu, kini dari potongan rambutnya saja sudah terlihat jauh lebih dewasa. Tapi, satu yang tak berubah: cantikmu. Atau sebenarnya aku saja yang selalu berdalih demikian. Aku tak pernah tes mata sejak dari rahim ibuku. Menyesal barangkali tak kusampaikan, atau tidak. Tak ada pesan yang ingin kusampaikan begitu penting. Hanya barangkali sekadar, “Apa kabar?”
Bagaimana tentang biru? Iya birumu, biru apalah itu. Sebuah warna yang awalnya aku sukai karena tokoh “Power Rangers” berubah menjadi mimpi buruk. Biru, birumu, biru apalah. Masih hidupkah dia? Masih adakah dia? Kenapa masih saja biru biru biru terus. Mengapa harus biru? Langit juga biru. Laut juga biru. Pilu juga membiru. Mengapa kamu meninggalkan kesan yang begitu kejamnya pada biru. Luka lebamku juga biru. Memarku juga biru. Warna seragam yang dulu kita kenakan juga biru.
Lalu, lalu... Bagaimana dengan jalan-jalanmu? Kamera analog kesayanganmu? Analog atau digital sih? Ah, terserah. Bagaimana dengan 22? 23? Halah, terlalu banyak bagaimana. Bagaimana mimpimu? Semua bakti sosial yang kamu jalankan? Bagaimana dengan tulisan-tulisanmu? Aku benar-benar tak tahu apa-apa lagi tentangmu, bu Arsitek.
Seolah mimpi menjadi nyata bila nanti rupa-rupanya kubisa menyaksikan rupamu. Kemegahan di balik senyum, keindahan di balik kedua retina matamu, kehancuran menyaksikan aku yang kembali bisu dibuatmu. Selalu dan selalu seperti itu. Ego mendesak supaya terlihat keren di depan matamu. Tapi, sesal yang segera membuntuti saat menatap nanar kepergianmu. Tidak, tentu tidak. Kamu tak pernah pergi, kita hanya lulus. Yang selalu bergairah mengetik dan dibalas, tercabik oleh ingatan bahwa aku selalu berujar tak penting. Temanmu penting, hidupmu tentu penting. Candamu juga penting. Kamu hidup dalam duniaku sedangkan aku hanya hidup dalam duniaku sendiri. Kamu punya dunia yang lebih ideal.
Udah jangan sedih-sedih melulu. Intinya, bu Arsitek. Mau seberapa kau buat tangan halusmu menjadi kasar, mau seberapa legam kau buat kulit putihmu itu. Terserah. Semua selalu terserah. Kamu bukan lagi anak kecil yang takut naik kereta sendiri­. Kawanku pernah melihatmu berkelana naik kereta seorang diri. Wow, betapa keren! Betapa dunia berubah begitu cepat. Dari rambutmu yang diikat dua sampai rambut setengah bahu dan usiamu makin mendekati kepala dua. Waktu bergerak begitu cepat padahal rasa-rasanya baru saja tanganmu membersihkan sisa makanan di rambutku oleh perilaku usil kawan.
Yaudah lah ya, tak ada yang bisa dikembalikan. Walau bisa biar saja tetap seperti ini. Seperti ada atau tiadanya dirimu tetap dan terlanjur mengisi hari-hari yang ingat atau yang lupa. Tak ada yang perlu ditarik sekalipun janjiku untuk menjadi aktor hijau. Gagal, hehe. Pasti sudah lupa juga, sudah terlalu usang. Mungkin pula tak sengaja kau ucap kala itu, mana tahu?
Biarlah di mana, entah di rumah hangatmu kini yang sudah kulupa jalannya (aku memang pelupa), di kosan nyamanmu di kota seberang, atau di kampus yang pasti sekarang sudah tutup. Jaga dirimu, jaga dirimu dari dirimu, jaga dirimu dari aku. Karena aku tak bisa menjaga diriku saat mencoba menjaga dirimu di dekatku. Biarlah ke mana yang penting jangan tanggalkan jalan pulang. Oh iya, hampir terlupa. Jangan salahkan aku bila biru menjadi warna yang kerap membuatku kesal. Entahlah.

Pesanku: sehat selalu, berhasillah, dan terbekatilah. Cemerlang. Bahagia.

Lazimnya surat itu berbalas. Tapi enggak juga sih. Surat yasin gak berbalas, balasannya pahala. Berarti surat ini sama, anggap saja pahala.


Jakarta, Maret 2020.
Kamar Isolasi.

0 komentar: