Penulis: Ahcmad Fajar Cici Mulyana Redaktur: Billie Wijaya U Ilustrator: @mugirie                Apa kamu tahu doppelganger ? ...

Wabah




Penulis: Ahcmad Fajar Cici Mulyana
Redaktur: Billie Wijaya U
Ilustrator: @mugirie
               Apa kamu tahu doppelganger?
            Katanya jika kamu bertemu dengan doppelgangermu, maka hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, esok kamu akan mati. Kedua, esok dia yang akan mati. Baik pilihan pertama maupun yang kedua, tidak akan terjadi hal yang baik manakala kalian bertemu. Maka dari itu, kalian tidak boleh sampai bertemu. Tidak boleh sama sekali!
            Kamu orangnya terlalu baik, terlampau baik malah. Bila skenario doppelganger itu terjadi, maka tanpa berpikir dua kali kamu akan dengan ‘senang hati’ mengorbankan dirimu. Aku yakin itu. Bahkan aku yang kamu anggap sebagai teman terdekatmu sendiri, tidak bisa berbuat banyak jika itu sudah merupakan keputusanmu. Aku angkat tangan dan hanya bisa pasrah. Jadi, sebelum fenomena doppelganger itu terjadi padamu, aku akan berusaha keras menghindari hal itu terjadi. Kalau perlu, aku akan mencari siapa doppelgangermu dan mengakhirinya dengan tanganku sendiri. Aku serius dengan hal itu.
            Bertolak dari hal itu, aku mencari-cari di belakangmu siapa gerangan doppelgangermu. Siapa tahu aku bisa dengan cepat menemukannya dan mengakhirinya supaya hidupku denganmu tidak ada gangguan sama sekali. Sering kali ketika kita bertegur sapa, aku tidak tahan hanya dengan melihat senyum di wajahmu. Aku tak mau itu menjadi terakhir kalinya aku melihat senyum itu. Aku tahu aku ini orang yang egois, tapi bila ini menyangkut dirimu maka aku tidak segan-segan sekalipun dicap sebagai seorang kriminal.
            Menilik jauh ke belakang, ada alasan mengapa aku sampai sedemikian berbuat begitu untukmu. Hanya dirimu, satu dari jutaan milyar manusia yang hidup di dunia ini, yang tanpa ragu mengulurkan tangan padaku—koreksi—pada kami. Sekumpulan orang-orang yang ‘katanya’ sudah tidak ada harapan untuk hidup. Dirimu membawa janji-janji masa depan pada kami yang meskipun semua itu bohong, menimbulkan percikan semangat kembali pada diri kami. Aku tidak peduli kalau itu semua hanya kebohonganmu atau apapun itu, aku akan memilih untuk tetap percaya. Kilas balik itulah yang membuatku ingin selalu melindungimu.
            “Oh, ayolah. Kau tidak perlu bersikap terlalu takut begitu,” ucapmu menenangkanku. “Aku bisa jaga diriku sendiri.”
            “Tidak,” bantahku. “Bukankah kau juga menyadari akhir-akhir ini banyak kasus kematian mendadak di kota ini? Menurut beberapa saksi, para korban itu sehari sebelumnya seakan ‘sedang bercermin’ dengan pantulan diri mereka sendiri. Bukankah itu sudah jelas doppelganger? Masihkah kau menolak kenyataan itu?”
            Dirimu menghela napas ringan, kemudian tersenyum. Ah, senyum itu lagi. Senyum indah yang kuingin tak seorang pun bisa merebutnya dariku. Tak akan pernah!
            “Dengar ya, orang yang keras kepala,” nada bicaramu terdengar dibuat-buat. Aku sangat tahu bahwa kamu tidak bisa berbohong. Terlalu mudah membedakan saat kau bicara jujur dengan tidak. “Aku tidak akan bosan-bosan bilang padamu bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri.”
            “Aku pun juga begitu,” balasku. “Aku tidak akan bosan-bosan bilang padamu untuk terus berhati-hati dan tidak menurunkan tingkat kewaspadaan. Aku akan menjagamu seharian penuh bila perlu.”
            Dirimu menujukkan gelagat merasa sedikit terganggu dengan keegoisanku. Tak masalah. Aku tahu aku ini orang yang egois, tapi bila ini menyangkut dirimu maka aku tidak segan-segan sekalipun itu bisa membuatmu membenciku. Meski aku tidak pernah berpikir sampai ke sana.
            Sore hari setelah perdebatan singkat itu, kita pulang bersama-sama menuju rumah masing-masing. Kebetulan arahnya sama, jadi kita memutuskan utnuk pulang bersama-sama. Dirimu dengan segala kesederhanaan yang mengelilingimu dan aku dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Aku bersyukur dipertemukan denganmu. Tempat kerjaku sekarang pun juga merupakan buah jerih payahmu membantuku. Tidak akan kubiarkan doppelganger itu menghantuimu.
            Malam menjelang setiap manusia mulai terbuai dengan mimpi-mimpinya, aku mengendap-endap keluar rumah untuk memulai misi terakhirku. Sudah sepekan aku melakukan interogasi pada setiap wajah-wajah yang kulihat seharian, ada satu wajah yang bisa kusebut tersangka doppelgangermu. Wajahnya serupa denganmu dan itu sangat membuatku takut. Jika saja kita tidak sesering itu bertemu di tempat kerja, mungkin sudah dari jauh-jauh hari aku mengabisinya. Sudah sejak lama aku geram dan tanganku serasa ingin mengakhirinya saat itu juga. Untungnya, aku cukup bisa mengendalkan kesabaranku, dan di malam hari inilah kesabaran itu telah berada di titik maksimalnya. Tidak ada waktu lagi.
            Malam itu aku melihat ‘dia’ di tempat yang sama. Di depan sebuah rumah yatim yang ramai dengan tawa riang penghuninya bahkan ketika malam telah tiba. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam, ‘dia’ pun memilih memandang dari jauh dan tidak mendekat ataupun masuk. Aku jadi terheran-heran sendiri karena itu. Melesat cepat, aku melayangkan pisau tepat untuk menghabisi hidup‘nya’.
            Tidak pernah kusangka bahwa ‘dia’ lebih dari cerdik untuk mengelabuhi seranganku. Pisauku yang melayang cepat dapat dihentikan dengan mudah.
            “Ada urusan apa kau menemuiku?” perkataan‘nya’ menggambarkan dengan jelas kemarahannya padaku.
            “Aku punya seseorang yang berharga dan dia serupa denganmu,” ucapku jujur. “Aku tidak akan membiarkannya mati konyol hanya karena rumor doppelganger. Bila perlu aku harus menghabisimu untuk menghindari kemungkinan terburuk terjadi.”
            “Ho… menarik. Aku jadi ingin bertemu dengannya.”
            Cih. Sepertinya aku tidak akan bisa menang dengan mudah.
***
            “Ceritanya cukup, anak-anak. Waktunya tidur.” ucapku.
            “Yah…” tiga anak kecil yang berkerumun mendekat padaku serentak kecewa.
            Aku bangkit dari kursi dan menuntun tiga anak kecil itu ke tempat tidur mereka. Satu hari berlalu tanpa ada kekhawatiran sama sekali. Pasalnya, tiga bulan semenjak pertarunganku dengan doppelgangermu, fenomena ganjil itu semakin tidak terkendali. Orang-orang mulai gugur dengan jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit. Sejak hari itu, aku memutuskan mengungsi ke tempat yang jauh dengan membawa sebanyak-banyaknya orang yang mau ikut bersamaku, sama seperti yang kamu lakukan dulu. Mencegah banyak orang yang mati karena fenomena doppelganger dengan cara mengasingkan diri. Entah cara ini bisa bertahan berapa lama.
            Kini, aku bersama beberapa orang yang selamat mendirikan pemukiman sederhana jauh di dalam hutan. Sebisa mungkin menghindarkan diri dari kekacauan yang melanda kota. Kami bahu membahu melindungi segenap yang tersisa dari kami, sambil terus berdoa akan ada hari saat semua ini berakhir. Menunggu keajaiban tiba dengan kemungkinan yang nyaris mendekati nol.
            Aku bersumpah untuk terus melindungi orang-orangku dan selalu bersikap positif. Berusaha memahami satu sama lain agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman dan tindakan gegabah yang sangat berisiko. Aku tidak mau kejadian saat aku membunuhmu—yang awalnya kuanggap doppelgangermu—tidak terulang pada orang-orang yang kuanggap berharga sekarang. Aku sangat terpukul dan harus banyak-banyak belajar dari masa lalu.
            Posko-posko mulai didirikan, pertolongan terhadap mereka yang bisa bertahan mulai digalakkan. Sedikit sekali yang bisa ditolong, tapi itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Aku banyak mendengar berita-berita semacam itu lewat radio tua milikku. Pemberian darimu tentunya. Hari-hariku menjadi kembali berarti berkatmu. Hari-hariku yang kelam lantas tergantikan dengan lembar baru yang amat berkilau semua berkat hadirmu. Kan kubawa selalu momen disaat kita pertama kali bertemu. Ucapan panjang darimu yang sangat membekas dan bertahan dalam memoriku.
            “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bisakah aku menjadi sebaik-baik manusia itu dengan cara menolongmu? Kalau bisa, akan kulakukan itu dengan senang hati.” [ ]

0 komentar: